SHADOW OF ETERNITY | Bab 4: Pertemuan Takdir
SHADOW OF ETERNITY | Bab 4: Pertemuan Takdir
Kembali ke Sinopsis & Daftar Bab
Api membakar sebagian besar Desa Aerith.
Asap hitam membubung tinggi ke langit, bercampur dengan kabut gelap yang masih menyelimuti wilayah itu sejak serangan monster dimulai.
Jeritan penduduk terdengar dari segala arah.
Rumah-rumah runtuh.
Para penjaga desa bertarung mati-matian melawan monster bayangan yang terus berdatangan tanpa henti.
Di tengah kekacauan itu, Arka berdiri membeku.
Tubuhnya gemetar.
Matanya masih menatap monster raksasa bertanduk hitam yang tadi memanggilnya dengan satu kata.
Pewaris.
Kata itu terus terngiang di kepalanya.
“Apa maksudnya…”
Namun sebelum Arka sempat berpikir lebih jauh, monster raksasa tersebut kembali mengaum keras.
ROOOOOARRRR!!
Gelombang energi hitam menyapu seluruh desa.
Tanah bergetar hebat.
Beberapa bangunan langsung runtuh seketika.
“Arka!”
Elna menarik tangannya cepat sebelum pecahan kayu besar jatuh tepat di tempatnya berdiri.
“Kita harus pergi!”
Arka menoleh ke arah gadis itu.
Wajah Elna dipenuhi ketakutan.
Namun di balik rasa takut itu, Arka bisa melihat satu hal lain.
Kesedihan.
Karena mereka berdua sadar…
Desa mereka tidak akan pernah kembali seperti dulu.
BOOOOM!!
Ledakan lain terdengar dari sisi barat desa.
Monster-monster bayangan terus menyerang tanpa ampun.
Pria berjubah abu melompat turun dari atap rumah sambil membawa pedang panjang hitam.
Gerakannya cepat dan tajam.
Dalam satu tebasan, dua monster langsung hancur menjadi asap.
“Kalau kalian tetap di sini, kalian akan mati!”
Ia menatap Arka tajam.
“Terutama kau.”
“Apa sebenarnya yang terjadi?!” bentak Arka.
“Apa monster-monster ini?”
“Mengapa mereka mengejarku?!”
Pria berjubah itu diam sesaat.
Kemudian ia berkata pelan.
“Karena kau membawa kekuatan yang seharusnya sudah lama menghilang.”
Jantung Arka langsung berdetak keras.
“Aku tidak mengerti.”
“Kau akan mengerti nanti.”
“Tapi sekarang kita harus pergi.”
Pria itu kembali menebas monster yang mendekat.
“Pasukan bayangan terus berdatangan.”
“Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkanmu.”
Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia menatap desa yang terbakar di sekelilingnya.
Rumah-rumah hancur.
Penduduk berlari ketakutan.
Dan semua itu…
Terjadi karena dirinya.
“Arka…”
Elna memegang lengannya pelan.
“Kau harus pergi.”
Mata Arka membelalak.
“Elna?”
“Kalau kau tetap di sini… semua orang akan mati.”
Suara gadis itu bergetar saat mengatakannya.
Arka menunduk diam.
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
Ia merasa benar-benar sendirian.
Tiba-tiba suara ledakan besar terdengar dari gerbang desa.
Monster raksasa bertanduk hitam mulai bergerak mendekat.
Setiap langkahnya membuat tanah retak.
Matanya merah menyala menatap Arka.
Dan lagi-lagi…
Makhluk itu berbicara.
“Umbra… menunggumu…”
DUUUUM!!
Simbol hitam di tubuh Arka kembali bersinar terang.
Rasa sakit luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Aghhh!”
Arka jatuh berlutut sambil memegang lengannya.
Asap hitam mulai keluar dari tubuhnya.
Bisikan-bisikan aneh terdengar semakin jelas.
“Hancurkan…”
“Bangkit…”
“Kembali…”
Suara-suara itu bercampur di dalam kepalanya hingga membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Pria berjubah abu langsung mendekat.
“Tidak bagus…”
Ia mengeluarkan sebuah kristal kecil berwarna biru dari sakunya.
Lalu menempelkannya ke simbol di lengan Arka.
SSSHHHHH!!
Asap hitam perlahan menghilang.
Dan rasa sakit Arka mulai mereda.
“Apa yang kau lakukan?”
“Tadi kekuatanmu hampir lepas.”
Pria itu menatapnya serius.
“Kalau itu terjadi sekarang… seluruh desa bisa hancur.”
Wajah Arka langsung pucat.
Ia menatap tangannya sendiri dengan gemetar.
Kekuatan apa sebenarnya yang ada di dalam dirinya?
Tiba-tiba monster raksasa itu mengaum keras lagi.
ROOOOARRR!!
Puluhan monster bayangan langsung menyerbu menuju mereka.
Pria berjubah abu menghunus pedangnya.
“Kalian pergi ke hutan utara!”
“Aku akan menahan mereka.”
“Apa?!” seru Elna.
“Kau sendirian melawan sebanyak itu?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Aku sudah terlalu sering menghadapi monster seperti ini.”
Kemudian ia menatap Arka.
“Kalau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya…”
“Bertahan hiduplah.”
Setelah mengatakan itu, pria berjubah abu langsung melompat ke depan.
DUAAK!!
Pedangnya menghantam monster pertama hingga hancur.
Pertarungan besar kembali dimulai.
Arka menatap pria itu dengan bingung.
Ia bahkan belum mengetahui nama orang tersebut.
Namun pria misterius itu mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.
“Arka!”
Elna menarik tangannya.
“Kita harus pergi sekarang!”
Dengan berat hati, Arka akhirnya mengikuti Elna menuju hutan utara.
Mereka berlari melewati jalan-jalan desa yang terbakar.
Beberapa penduduk menatap Arka dengan ketakutan saat dirinya lewat.
Dan tatapan itu terasa lebih menyakitkan dibanding luka apa pun.
Karena Aerith adalah rumahnya.
Tempat ia tumbuh sejak kecil.
Namun kini…
Ia tidak lagi merasa diterima di sana.
Sesampainya di tepi hutan, Arka menoleh sekali lagi ke arah desa.
Api terus membesar.
Suara pertarungan masih terdengar.
Dan di tengah kekacauan itu…
Langit di atas Aerith perlahan berubah hitam pekat.
Seolah kegelapan sedang menelan dunia.
“Elna…”
“Hm?”
“Kalau aku benar-benar monster…”
Elna langsung memotong ucapannya.
“Kau bukan monster.”
“Tapi semua ini terjadi karena aku.”
“Bukan salahmu.”
Arka terdiam.
Ia ingin percaya pada kata-kata itu.
Namun jauh di dalam dirinya…
Ia mulai merasakan sesuatu yang menakutkan.
Karena setiap kali simbol hitam itu bersinar…
Sebagian kecil dirinya menikmati kekuatan tersebut.
Dan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba…
Suara ledakan besar terdengar dari arah desa.
DUUUUUM!!
Gelombang angin kuat menyapu seluruh hutan.
Arka dan Elna langsung menoleh.
Di kejauhan…
Mereka melihat cahaya hitam besar membubung ke langit.
Dan sesaat kemudian…
Seluruh Desa Aerith tenggelam dalam kobaran api.
Mata Elna langsung membelalak.
“Tidak…”
Air mata mulai jatuh di wajah gadis itu.
Sementara Arka hanya bisa berdiri diam.
Desanya hancur.
Dan kehidupannya yang damai…
Berakhir malam itu.