SHADOW OF ETERNITY | Bab 3: Hari yang Berubah
SHADOW OF ETERNITY | Bab 3: Hari yang Berubah
Kembali ke Sinopsis & Daftar Bab
Fajar datang tanpa membawa kedamaian.
Kabut tebal menyelimuti Desa Aerith sejak pagi, membuat seluruh wilayah terlihat suram dan dingin. Biasanya suara ayam dan aktivitas para pedagang sudah memenuhi jalan utama desa, namun hari itu suasana terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Seolah seluruh desa sedang menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Arka berdiri di depan rumahnya sambil menatap langit abu-abu.
Ia tidak tidur semalaman.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan monster bermata merah kembali muncul di pikirannya.
Dan lebih buruk lagi…
Bisikan aneh itu terus terdengar di dalam kepalanya.
“Bangkit…”
“Bangkitlah…”
Arka memegang kepalanya pelan.
Suara tersebut terdengar samar namun cukup jelas untuk membuat tubuhnya merinding.
Ia mulai takut terhadap dirinya sendiri.
Simbol hitam di lengannya juga berubah semakin besar sejak malam tadi.
Kini retakan hitam itu menjalar hingga mendekati bahunya.
Dan setiap kali rasa sakit muncul…
Ia bisa merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.
Seolah ada kekuatan asing yang perlahan bangkit.
“Arka.”
Suara Elna membuatnya tersadar.
Gadis itu berdiri sambil membawa kantung kecil berisi makanan.
“Kau belum makan sejak tadi malam.”
“Aku tidak lapar.”
Elna menghela napas pelan.
“Semua orang mulai panik.”
Arka menunduk diam.
Ia sudah tahu itu.
Sejak pagi, beberapa penduduk mulai memandangnya dengan tatapan aneh.
Mereka berbisik saat dirinya lewat.
Dan beberapa anak kecil bahkan ditarik menjauh oleh orang tua mereka.
“Aku mulai menjadi monster di mata mereka.”
Elna langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kau tetap Arka yang sama.”
Namun bahkan gadis itu sendiri terlihat tidak benar-benar yakin.
Tiba-tiba lonceng darurat desa berbunyi keras.
DONG!
DONG!
DONG!
Wajah Elna langsung pucat.
“Monster…”
Para penduduk segera berlari keluar rumah dengan wajah panik.
Penjaga desa berteriak dari arah gerbang utama.
“Semua orang masuk ke rumah!”
“Jangan keluar!”
Arka langsung berlari menuju pusat desa bersama Elna.
Dan saat mereka tiba…
Mereka melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuh membeku.
Puluhan monster bayangan berdiri di luar gerbang desa.
Makhluk-makhluk hitam itu bergerak pelan seperti asap hidup.
Mata merah mereka menyala di balik kabut pagi.
Jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding sebelumnya.
Dan di belakang mereka…
Berdiri sesosok monster raksasa setinggi rumah.
Tubuhnya dipenuhi retakan merah menyala.
Sementara tanduk hitam besar tumbuh di kepalanya.
Monster itu mengeluarkan geraman rendah yang membuat tanah bergetar.
GRRRRRRRR…
“Mustahil…”
Salah satu penjaga desa mundur ketakutan.
“Kita tidak bisa melawan sebanyak itu…”
Elric berdiri di depan gerbang sambil menggenggam pedangnya erat.
“Pertahankan gerbang!”
“Jangan biarkan mereka masuk!”
Namun wajah pria tua itu terlihat tegang.
Ia tahu desa kecil seperti Aerith tidak mungkin mampu melawan monster sebanyak itu.
Tiba-tiba…
Monster raksasa tersebut menatap langsung ke arah Arka.
Dan untuk sesaat…
Seluruh monster lain berhenti bergerak.
Seolah menunggu perintah.
Jantung Arka berdetak keras.
Monster itu perlahan mengangkat tangannya.
Lalu menunjuk Arka.
DUUUUM!!
Gerbang desa langsung hancur oleh ledakan hitam besar.
Jeritan memenuhi seluruh desa.
Monster-monster bayangan langsung menyerbu masuk.
“Lari!”
“Monster masuk!!”
Penduduk berlarian panik.
Rumah-rumah mulai terbakar.
Jeritan dan suara ledakan terdengar dari segala arah.
Desa Aerith berubah menjadi neraka dalam hitungan detik.
Arka membeku melihat semuanya.
Seorang anak kecil hampir diterkam monster bayangan.
Tanpa berpikir panjang, Arka berlari.
BRAK!!
Ia menabrak monster tersebut dan menarik anak kecil itu menjauh.
Namun monster lain langsung mendekat.
Mata merah mereka tertuju pada Arka.
Dan lagi-lagi…
Makhluk-makhluk itu terlihat mengenalinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi…”
Bisikan aneh kembali terdengar.
“Hancurkan…”
“Hancurkan mereka…”
Simbol hitam di lengan Arka mulai bersinar.
Rasa panas menyebar cepat ke seluruh tubuhnya.
“Aghhh!”
Tubuh Arka dipenuhi asap hitam tipis.
Matanya perlahan berubah merah.
Monster-monster di sekitarnya tiba-tiba berhenti bergerak.
Mereka mundur perlahan.
Takut.
Melihat itu, Arka justru semakin ketakutan.
“Apa aku…”
“Monster juga…?”
BOOOOM!!
Ledakan besar terdengar dari sisi timur desa.
Arka menoleh cepat.
Rumah-rumah mulai runtuh.
Api menyebar ke mana-mana.
Dan di tengah kekacauan itu…
Pria berjubah abu muncul kembali.
Ia melompat cepat sambil menebas beberapa monster bayangan sekaligus.
Gerakannya sangat cepat.
Dalam hitungan detik, tiga monster langsung hancur menjadi asap hitam.
“Arka!”
Pria itu berteriak keras.
“Kalau kau tetap di sini, semua orang akan mati!”
“Apa?”
“Mereka datang karena dirimu!”
Kalimat itu menghantam Arka seperti petir.
Pria berjubah abu menatapnya serius.
“Kalau kau ingin menyelamatkan desa ini…”
“Kau harus pergi.”
Arka membelalakkan mata.
Pergi?
Meninggalkan desa?
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Monster raksasa itu mengaum keras.
ROOOOOARRRR!!
Gelombang energi hitam meledak dari tubuhnya.
Puluhan rumah langsung runtuh.
Penduduk berteriak ketakutan.
Elna hampir tertimpa reruntuhan kayu.
“ELNA!”
Arka berlari cepat dan menarik gadis itu menjauh.
Namun monster raksasa tersebut kini berjalan langsung menuju mereka.
Tanah bergetar setiap kali makhluk itu melangkah.
Matanya merah menyala menatap Arka.
Dan untuk pertama kalinya…
Monster itu berbicara.
“Pewaris…”
Suara beratnya membuat seluruh desa terdiam.
Arka membeku.
Monster itu mengangkat tangannya perlahan.
“Kembali…”
“Ke… Umbra…”
DUUUUM!!
Simbol hitam di tubuh Arka bersinar sangat terang.
Gelombang energi besar meledak dari tubuhnya.
Seluruh monster bayangan langsung mundur bersamaan.
Sementara langit di atas desa berubah gelap.
Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa.
Semua penduduk menatap Arka dengan wajah ketakutan.
Kini mereka benar-benar percaya.
Arka bukan manusia biasa.
Dan pada hari itu…
Kehidupan Arka berubah selamanya.