SHADOW OF ETERNITY | Bab 2: Pertanda Aneh
SHADOW OF ETERNITY | Bab 2: Pertanda Aneh
Kembali ke Sinopsis & Daftar Bab
Malam turun perlahan di atas Desa Aerith.
Kabut tipis mulai menyelimuti jalan-jalan kecil yang biasanya ramai oleh suara penduduk. Rumah-rumah kayu menutup pintu lebih awal dari biasanya setelah serangan monster yang terjadi sore tadi.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa aman.
Bahkan angin malam terasa berbeda.
Dingin. Berat. Dan membawa aroma aneh seperti tanah basah bercampur asap terbakar.
Arka duduk sendirian di depan rumah kecilnya sambil menatap langit hitam tanpa bintang.
Pikirannya kacau.
Bayangan monster bermata merah itu terus muncul di kepalanya.
Namun yang lebih mengganggunya bukan monster tersebut.
Melainkan simbol hitam di lengannya.
Simbol itu kembali terasa panas.
Bahkan lebih panas dibanding sebelumnya.
Arka perlahan membuka kain penutup di lengannya.
Dan napasnya langsung tertahan.
Simbol itu berubah.
Lingkaran hitam yang sebelumnya kecil kini mulai menyebar seperti akar retak di kulitnya.
Seolah sesuatu sedang tumbuh di dalam tubuhnya.
“Apa sebenarnya ini…”
Arka mencoba menyentuh simbol tersebut.
Namun rasa panas tajam langsung menjalar hingga ke bahunya.
“Agh!”
Ia menggertakkan gigi menahan sakit.
Tiba-tiba…
Bisikan pelan terdengar di telinganya.
“Bangkitlah…”
Arka langsung berdiri.
Matanya menyapu sekitar rumah.
Tidak ada siapa pun.
Hanya suara angin malam dan daun-daun yang bergerak pelan.
Namun suara itu terdengar jelas.
Sangat jelas.
Dan berasal dari dalam kepalanya sendiri.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
Namun simbol di lengannya kembali bersinar redup.
Jantung Arka berdetak semakin cepat.
Ia mulai ketakutan.
Seumur hidupnya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Dan yang paling membuatnya takut…
Sebagian kecil dari dirinya merasa familiar dengan suara tersebut.
BRAK!
Pintu rumah tiba-tiba terbuka keras.
Elna berdiri di sana dengan wajah panik.
“Arka!”
“Elna?”
Gadis itu terlihat kehabisan napas.
“Pak Elric memanggil semua orang ke balai desa.”
“Ada apa?”
“Mereka menemukan sesuatu di hutan utara.”
Perasaan buruk langsung muncul di dada Arka.
Tanpa banyak bicara, ia segera mengikuti Elna menuju balai desa.
Sepanjang perjalanan, suasana desa terasa mencekam.
Beberapa penduduk berdiri di depan rumah sambil membawa obor.
Anak-anak dilarang keluar rumah.
Dan para penjaga desa terlihat berjaga dengan wajah tegang.
“Belum pernah kulihat desa setakut ini,” gumam Elna pelan.
Arka tidak menjawab.
Karena ia merasakan hal yang sama.
Sesampainya di balai desa, puluhan penduduk sudah berkumpul.
Suasana langsung hening saat Arka masuk.
Beberapa orang mulai berbisik pelan.
Mereka semua melihat ledakan energi hitam dari tubuh Arka tadi sore.
Dan kini…
Tatapan mereka mulai berubah.
Bukan lagi tatapan hangat seperti biasanya.
Melainkan tatapan takut.
Di tengah ruangan, Elric duduk sambil memegangi bahunya yang terluka.
Luka hitam itu masih mengeluarkan asap tipis.
“Arka. Duduk.”
Suara Elric terdengar berat.
Arka menuruti tanpa banyak bicara.
Elric lalu meletakkan sebuah kain tua di atas meja kayu.
Di atas kain itu terdapat gambar simbol hitam.
Dan simbol tersebut…
Sama persis dengan milik Arka.
“Kami menemukan simbol ini di hutan utara,” ucap Elric.
“Di tempat monster itu muncul.”
Ruangan langsung dipenuhi bisikan panik.
“Aku pernah mendengar legenda tentang simbol itu…”
“Bukankah itu tanda kutukan?”
“Tidak mungkin…”
Arka menunduk diam.
Tangannya mengepal kuat.
Ia ingin berkata bahwa dirinya juga memiliki simbol yang sama.
Namun ia takut.
Takut jika seluruh desa akan menganggapnya monster.
Elric menatap seluruh penduduk dengan serius.
“Mulai malam ini, tidak seorang pun boleh keluar desa.”
“Penjaga akan berjaga sepanjang malam.”
“Kita tidak tahu apa yang sedang mendekat.”
Tiba-tiba…
Api lentera di dalam ruangan berkedip pelan.
Lalu padam bersamaan.
Gelap.
Jeritan kecil terdengar dari beberapa penduduk.
“Apa yang terjadi?!”
“Api padam sendiri!”
Angin dingin masuk dari celah-celah kayu balai desa.
Dan bersamaan dengan itu…
Terdengar suara geraman rendah dari luar.
GRRRRRR…
Tubuh Arka langsung menegang.
Suara itu.
Monster bayangan.
BOOOOM!!
Dinding balai desa tiba-tiba hancur.
Pecahan kayu beterbangan ke segala arah.
Jeritan memenuhi ruangan.
Seekor monster hitam besar melompat masuk.
Tubuhnya menyerupai serigala raksasa dengan asap hitam yang terus bergerak di seluruh tubuhnya.
Matanya merah menyala.
Haus darah.
Monster itu menggeram keras hingga seluruh ruangan bergetar.
“Elna! Mundur!”
Arka menarik Elna ke belakang tepat saat monster itu menyerang.
BRAK!!
Lantai kayu pecah terkena cakarnya.
Penduduk langsung berlarian panik.
Elric berdiri sambil menghunus pedang tuanya.
“Keluar dari desa kami!”
Ia menyerang monster tersebut.
CLANG!!
Namun pedangnya terpental seolah menghantam batu besi.
Monster itu terlalu kuat.
Dalam satu serangan, tubuh Elric terpental menghantam dinding.
“Pak Elric!”
Arka mengepalkan tangan.
Ketakutan mulai berubah menjadi kemarahan.
Monster itu berjalan perlahan menuju Elna.
Matanya merah menyala.
“Elna… lari…”
Namun gadis itu terlalu takut untuk bergerak.
Tanpa berpikir panjang, Arka berdiri di depan Elna.
Tubuhnya gemetar. Namun ia tidak mundur.
Monster itu mengangkat cakarnya tinggi.
Dan pada detik berikutnya…
Simbol hitam di lengan Arka bersinar terang.
DUUUUM!!
Gelombang energi hitam meledak dari tubuhnya.
Seluruh balai desa terguncang hebat.
Monster bayangan itu terpental beberapa meter sambil menggeram marah.
Semua orang membelalakkan mata.
“Arka…?”
Elna menatapnya dengan wajah tidak percaya.
Sementara Arka sendiri terlihat syok.
Asap hitam mulai muncul dari lengannya.
Dan untuk sesaat…
Matanya berubah merah.
Bisikan itu kembali terdengar.
“Hancurkan mereka…”
“Apa…”
“Hancurkan semuanya…”
Arka memegang kepalanya kesakitan.
Monster bayangan itu tiba-tiba berhenti menyerang.
Makhluk tersebut justru menatap Arka dengan aneh.
Seolah mengenalinya.
Kemudian monster itu perlahan mundur.
Dan melompat keluar menuju kegelapan malam.
Sunyi.
Tidak ada seorang pun berbicara.
Semua mata kini tertuju pada Arka.
Tatapan takut. Tatapan bingung. Tatapan curiga.
Arka menyadari semuanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasa dirinya bukan manusia biasa.
Elric berdiri perlahan sambil menatap Arka serius.
“Simbol itu…”
Jantung Arka berdetak keras.
“Kau mendapatkannya dari mana?”
Arka tidak bisa menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu.
Namun jauh di dalam pikirannya…
Ia mulai menyadari satu hal.
Monster itu datang bukan untuk menyerang desa.
Monster itu datang…
Untuk dirinya.
Dan malam itu…
Takdir Arka mulai bergerak menuju kegelapan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya Tinjakstar