SHADOW OF ETERNITY | Bab 1: Kehidupan Biasa
SHADOW OF ETERNITY | Bab 1: Kehidupan Biasa
Kembali ke Sinopsis & Daftar Bab
Angin pagi berhembus lembut melewati hamparan ladang hijau Desa Aerith. Cahaya matahari musim panas menyentuh atap-atap rumah kayu yang berdiri tenang di kaki Pegunungan Elarion. Dari kejauhan terdengar suara roda kereta, ayam berkokok, dan tawa anak-anak yang berlarian di jalan tanah desa kecil itu.
Desa Aerith bukan tempat istimewa.
Tidak ada kastel megah. Tidak ada penyihir legendaris. Tidak ada prajurit kerajaan.
Hanya desa kecil yang terlupakan di pinggiran wilayah utara.
Namun bagi Arka…
Itulah seluruh dunianya.
Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berjalan pelan sambil membawa sekeranjang kayu bakar di pundaknya. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin pagi, sementara matanya terlihat lelah seperti seseorang yang kurang tidur selama berhari-hari.
“Arka! Cepat sedikit! Matahari sudah tinggi!”
Suara seorang wanita tua terdengar dari depan rumah sederhana dekat ladang gandum.
Arka menoleh lalu tersenyum kecil.
“Maaf, Bibi Lina.”
Wanita tua itu menghela napas panjang sambil melipat tangan.
“Kau ini masih muda tapi berjalan seperti orang tua.”
Arka hanya tertawa kecil sebelum meletakkan kayu bakar di samping rumah.
Hidupnya memang sederhana.
Sejak kecil ia hidup sendirian setelah kedua orang tuanya meninggal karena wabah misterius yang menyerang desa bertahun-tahun lalu.
Tidak ada keluarga. Tidak ada saudara. Tidak ada siapa pun.
Penduduk desa-lah yang membesarkannya sampai sekarang.
Karena itu Arka selalu membantu siapa saja sebisanya.
Memotong kayu. Membersihkan ladang. Berburu di hutan kecil dekat desa. Atau mengantar barang ke pasar.
Hari-harinya terasa damai. Terlalu damai.
Kadang Arka berpikir hidupnya akan terus seperti itu selamanya.
Namun akhir-akhir ini…
Sesuatu mulai berubah.
Setiap malam ia mengalami mimpi buruk yang sama.
Langit merah darah. Api yang membakar dunia. Jeritan manusia. Dan sosok bayangan hitam raksasa berdiri di tengah kehancuran.
Arka selalu terbangun dengan tubuh berkeringat dingin setiap kali mimpi itu muncul.
Anehnya…
Mimpi itu terasa nyata. Terlalu nyata.
“Arka!”
Suara seorang gadis membuyarkan pikirannya.
Seorang gadis berambut cokelat berlari kecil sambil membawa keranjang buah di tangannya.
“Elna?”
Gadis itu berhenti di depan Arka sambil mengatur napas.
“Kau melamun lagi.”
“Aku hanya capek.”
Elna menyipitkan mata curiga.
“Kau bilang begitu sejak tiga hari lalu.”
Arka mengalihkan pandangan.
Elna adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Dan Elna adalah satu-satunya orang yang selalu mengkhawatirkannya.
“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Elna pelan.
Arka terdiam beberapa detik.
Ia ingin jujur. Namun ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Tidak apa-apa.”
Elna menghela napas kecil.
“Kau buruk sekali dalam berbohong.”
Arka tersenyum tipis.
Namun jauh di dalam hatinya…
Ia sebenarnya ketakutan.
Karena ada satu rahasia yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Tiga malam lalu…
Ia menemukan tanda aneh di lengannya.
Simbol hitam berbentuk lingkaran retak seperti akar pohon.
Dan setiap kali mimpi buruk itu datang…
Tanda tersebut terasa panas seperti terbakar.
Arka diam-diam menutupi lengannya dengan kain agar tidak terlihat.
Ia tidak tahu apa arti simbol itu.
Namun entah kenapa…
Ia merasa simbol tersebut bukan sesuatu yang baik.
“Arka.”
“Hm?”
“Apa kau pernah berpikir meninggalkan desa ini?”
Pertanyaan Elna membuat Arka sedikit terkejut.
“Meninggalkan Aerith?”
Elna mengangguk pelan.
“Dunia luar pasti jauh lebih besar dari tempat ini.”
Arka menatap langit biru di atas desa.
Sejujurnya…
Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
Baginya Aerith sudah cukup.
Tempat kecil yang damai. Tempat tanpa perang. Tanpa monster. Tanpa kekacauan.
Namun akhir-akhir ini perasaan aneh terus muncul di dalam dirinya.
Seolah sesuatu sedang memanggilnya dari kejauhan.
“Aku tidak tahu,” jawab Arka pelan.
Elna tersenyum kecil.
“Kalau suatu hari kau pergi… jangan lupakan aku.”
Arka tertawa kecil.
“Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
Namun tanpa mereka sadari…
Takdir sudah mulai bergerak.
Di dalam hutan gelap beberapa kilometer dari desa…
Seekor makhluk besar berdiri di antara pepohonan.
Tubuhnya hitam seperti bayangan. Matanya merah menyala. Dan dari mulutnya keluar suara geraman pelan yang mengerikan.
Makhluk itu tidak bergerak.
Ia hanya menatap ke arah Desa Aerith.
Ke arah Arka.
Di atas dahinya terdapat simbol yang sama dengan milik Arka.
Sementara itu…
Langit perlahan berubah mendung.
Angin dingin mulai berhembus melewati desa.
Beberapa penduduk mulai menutup jendela rumah mereka karena merasa cuaca tiba-tiba berubah aneh.
Arka juga merasakannya.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Dan simbol hitam di lengannya mulai terasa panas lagi.
“Agh…”
“Arka?”
Arka memegang lengannya kuat-kuat.
Rasa panas itu semakin kuat.
Seolah ada sesuatu yang sedang bangkit dari dalam tubuhnya.
Tiba-tiba…
Suara jeritan terdengar dari arah gerbang desa.
“Ada monster!”
“Lari!!”
Wajah para penduduk langsung berubah panik.
Arka dan Elna saling menatap kaget.
Monster?
Di Aerith?
Itu mustahil.
Desa kecil itu belum pernah diserang monster selama puluhan tahun.
Namun suara jeritan semakin keras.
Dan tak lama kemudian…
Ledakan besar mengguncang tanah.
BOOOOM!!
Asap hitam membumbung tinggi dari arah gerbang desa.
Arka membelalakkan mata.
Orang-orang mulai berlari ketakutan. Anak-anak menangis. Rumah-rumah mulai terbakar.
“Arka!!”
Elna menarik tangannya panik.
Namun Arka tidak bergerak.
Tubuhnya membeku.
Karena untuk sesaat…
Ia melihat sosok besar berdiri di tengah asap hitam.
Makhluk bayangan bermata merah.
Sama persis seperti yang selalu muncul di dalam mimpinya.
Dan pada saat itu juga…
Simbol hitam di lengan Arka bersinar terang.
Seolah merespons kedatangan monster tersebut.
Mata Arka membelalak penuh ketakutan.
“Tidak mungkin…”
Namun jauh di dalam hatinya…
Ia tahu.
Hari damai di Desa Aerith telah berakhir.
Dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Karya Tinjaksta